Berita

Senandung Terbang Bangunsari

Di bawah langit malam Desa Bangunsari yang tenang, ketika riuh rendah aktivitas siang mulai luruh digantikan hening, sebuah harmoni indah perlahan mulai tercipta. Dari sudut desa, gema tabuhan terbang—dut dan tak—saling bersahutan, memecah sepi dan mengundang kedamaian di hati siapa saja yang mendengarnya. Malam itu, seperti malam-malam rutin biasanya, Grup Rebana As Salam kembali berkumpul untuk merajut nada dan rasa.Grup Rebana As Salam bukan sekadar sebuah kelompok seni religius; ia adalah ruh spiritualitas dan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat Bangunsari. Di bawah ketukan ritme yang presisi dan bimbingan yang penuh keikhlasan, kelompok ini tumbuh menjadi wadah pemersatu generasi.Di garis depan, tampak **Ust. Muhammad Nur Sa'id** selaku ketua grup, memimpin jalannya latihan dengan penuh kharisma. Tatapan matanya memancarkan semangat yang tak pernah padam, memastikan setiap anggotanya tidak hanya sekadar memukul perkusi atau melantunkan syair, melainkan menghayati setiap bait salawat yang dilambungkan. Baginya, setiap ketukan rebana adalah ketukan pintu langit, dan setiap selaras vokal adalah untaian doa demi keselamatan dan keberkahan desa.Tidak jauh dari sana, duduk mengawasi dengan senyum teduh, **Ust. Muhamad Anwar, S.Pd.** Selaku pembina Grup As Salam, beliau adalah tiang penyangga yang kokoh. Dedikasinya berlapis; di siang hari beliau mengabdi dengan pena dan kertas sebagai Sekretaris Desa Bangunsari—menata administrasi dan melayani masyarakat—sementara di malam hari, beliau mengabdikan waktu dan jiwanya untuk menjaga nyala api kesenian Islam ini. Perpaduan antara ketegasan seorang birokrat desa dan kelembutan seorang pendidik (S.Pd.) membuat arah pembinaan As Salam berjalan begitu seimbang, tertata, dan visioner.---### Harmoni Jemari dan JiwaSuasana latihan malam itu terasa begitu magis. Jemari para penabuh bergerak lincah di atas kulit terbang yang tegang. Ada dinamika yang luar biasa di sana:* **Ketukan Dasar (Lidok):** Menjadi pondasi irama yang kokoh, seumpama pondasi desa yang kuat.* **Pukulan Variasi (Anakan/Kemplang):** Saling mengisi dan bersahutan, melambangkan gotong royong warga Bangunsari yang saling melengkapi.* **Alunan Vokal:** Suara demi suara meliuk indah, membawa bait-bait pujian kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, menghadirkan rasa sejuk yang menjalar di dada setiap orang yang hadir.Keringat yang menetes di dahi para personel tak dihiraukan. Bagi mereka, lelah itu luruh bersamaan dengan tingginya frekuensi salawat yang digemakan. Di bawah asuhan duet hangat Ust. Muhammad Nur Sa'id dan Ust. Muhamad Anwar, latihan rutin ini bukan lagi sebuah kewajiban, melainkan sebuah kebutuhan spiritual. Sebuah momentum di mana penatnya urusan duniawi sejenak ditanggalkan, diganti dengan gemuruh rindu kepada Sang Pencipta.### Warisan Budaya Desa BangunsariSaat malam beranjak semakin larut, latihan pun dipuncaki dengan doa bersama. Suasana berubah menjadi khusyuk. Di dalam ruangan yang sederhana itu, tersimpan harapan besar agar Grup Rebana As Salam tetap tegak berdiri menjadi benteng moralitas dan kelestarian budaya di Desa Bangunsari.Dari ketukan rebana As Salam, kita belajar bahwa keindahan sejati lahir dari kedisiplinan, keikhlasan para pemimpinnya, dan kekompakan anggotanya. Dan malam itu, Bangunsari kembali tidur dalam pelukan nada-nada suci, menanti esok hari dengan optimisme yang ditiupkan lewat nafas-nafas salawat Grup As Salam.

Share :