
Gema peringatan Hari Tani Nasional ke-63 tahun 2026 terasa begitu hangat dan sarat makna di Kabupaten Kendal. Menyambut momentum bersejarah bagi pahlawan pangan bangsa ini, Yayasan Alfandi Insan Nashir menginisiasi kolaborasi bersama Pemerintah Desa Bangunsari dan kelompok tani setempat untuk menyelenggarakan kegiatan sarasehan dan tasyakuran. Berlokasi di Aula Balai Desa Bangunsari, Kecamatan Patebon, perhelatan yang berlangsung pada Rabu (23/09/2026) tersebut menjadi ruang perjumpaan yang tidak hanya khidmat, tetapi juga menghidupkan kembali semangat kebersamaan di tengah masyarakat pedesaan.
Mengusung tema puitis nan mendalam, “Merawat Tanah Menuai Berkah”, forum ini dirancang sebagai wadah refleksi atas kontribusi besar para petani sekaligus ruang dialog terbuka. Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen penting, mulai dari jajaran tokoh masyarakat desa, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Kendal, hingga Anggota DPRD Kendal Komisi B dari Fraksi PKB, Khasanudin. Kehadiran para pemangku kebijakan ini memberi warna tersendiri, mengubah acara tasyakuran yang semula bernuansa syukur menjadi mimbar aspirasi yang menyuarakan pergumulan nyata di garis depan pertanian.
Dalam sesi dialog yang berlangsung interaktif, Khasanudin menumpahkan perhatiannya pada dua tantangan utama yang menjadi urat nadi kehidupan petani di Bangunsari, yaitu keterbatasan pasokan irigasi dan belum memadainya akses jalan menuju kawasan persawahan. Kendati upaya penyedotan air dari Sungai Bodri telah diupayakan, debit pengairan yang mengaliri hamparan sawah warga dinilai masih jauh dari kata cukup.
“Persoalan irigasi dan akses jalan ini betul-betul krusial dan harus segera ditindaklanjuti. Saya berkomitmen penuh untuk mengawal aspirasi masyarakat Bangunsari ini hingga ke tingkat kebijakan, karena ini adalah kebutuhan mendasar yang sangat mereka perlukan,” tegas Khasanudin di hadapan para peserta sarasehan.
Harapan senada diutarakan oleh Ketua Kelompok Tani Desa Bangunsari, Prapto. Menyuarakan jeritan hati anggotanya, Prapto menaruh tumpuan besar agar pemerintah daerah dapat segera merealisasikan pembangunan saluran irigasi yang permanen serta Jalan Usaha Tani (JUT) yang layak guna mempermudah mobilitas alat dan hasil panen. Selain masalah infrastruktur, ia juga mengeluhkan sulitnya memperoleh pupuk bersubsidi jenis urea di pasaran saat musim tanam tiba—sebuah persoalan klasik yang kerap membebankan biaya produksi petani.
“Kami sangat berharap aspirasi yang kami sampaikan hari ini bisa segera mendapatkan solusi konkrit, demi meningkatkan produktivitas lahan dan mengangkat perekonomian masyarakat Desa Bangunsari,” ungkap Prapto penuh harap.
Menanggapi keluhan terkait kelangkaan pupuk bersubsidi tersebut, perwakilan Dinas Pertanian Kendal, Alwi, menegaskan komitmen pihaknya untuk bergerak cepat. Ia menyampaikan bahwa instansinya akan segera menelusuri akar masalah dengan melakukan verifikasi ulang terhadap data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) serta mengevaluasi laporan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di wilayah tersebut.
“Insyaallah hal ini akan segera kami bawa ke meja rapat internal. Jangan sampai ketika saatnya petani memupuk, pupuknya justru langka di lapangan. Kami berupaya menyelesaikan kendala distribusi ini secepat-cepatnya,” ujar Alwi menegaskan jaminannya.
Di sisi lain, Kepala Desa Bangunsari, Suwandi, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan ini. Mengingat sarasehan dan tasyakuran Hari Tani baru pertama kali digelar di desanya, Suwandi berharap momentum historis ini dapat menjadi batu pijakan untuk mempererat sinergi dan kolaborasi lintas sektoral—antara para petani, pemerintah desa, DPRD, hingga dinas teknis terkait—guna mendongkrak kualitas maupun kuantitas hasil pertanian di Bangunsari.
Pimpinan Yayasan Alfandi Insan Nashir, Nurhadi, turut menjelaskan latar belakang di balik inisiatif kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa yayasan tergerak menggelar sarasehan karena menyadari sepenuhnya bahwa mayoritas warga Desa Bangunsari menggantungkan urat nadi penghidupannya dari sektor pertanian. Bagi yayasan, mendengarkan dan menjembatani suara petani adalah bagian dari pengabdian sosial yang nyata. Nurhadi berharap seluruh poin aspirasi yang telah dicatat oleh perwakilan DPRD dan Dinas Pertanian tidak sekadar berhenti sebagai catatan rapat, melainkan segera menjelma menjadi aksi nyata di lapangan.
Melalui perpaduan antara doa tasyakuran dan semangat dialog ini, masyarakat Desa Bangunsari menyimpan asa yang membumbung tinggi. Mereka berharap kendala irigasi, minimnya infrastruktur jalan tani, serta keterbatasan pasokan pupuk bersubsidi dapat segera terurai—membuka jalan bagi terciptanya kedaulatan pangan, peningkatan produktivitas lahan, dan kesejahteraan yang hakiki bagi seluruh petani di tanah Bangunsari. red_mascarik
Dipost : 24 September 2026 | Dilihat : 6
Share :